Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya


Story From Friend…

Saya tidak tahu kisah ini nyata atau tidak. tetapi ini menyadarkan saya tentang betapa besarnya pengorbanan seorang ibu demi anaknya. semoga bermanfaat juga buat yang lain.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN. Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! “ Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik.. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Manajemen Masalah


Solusi untuk semua masalah

Suatu hari ada seorang pria yang sedang berjalan-jalan ditaman. Tiba-tiba ia melihat sebuah kepompong yang terdapat celah kecil pertanda bahwa calon kupu-kupu yang ada didalamnya sedang berusaha untuk keluar dari kepompong tersebut. Berjam-jam ia memperhatikan kupu-kupu tersebut berjuang keras untuk mendorong tubuhnya keluar melalui celah kecil tersebut, namun sepertinya usahanya sia-sia, kupu-kupu tersebut tak kunjung keluar dari kepompongnya. Sekilas tampaknya aktivitas itu sudah berhenti pada satu titik dan tidak ada perkembangan lebih lanjut.

Selintas kemudian, pria itu memutuskan untuk membantu kupu-kupu itu. Dia mengambil sebuah gunting dan membuka kepompong itu. Kemudian kupu-kupu itu keluar dengan sangat mudahnya.

Tapi apa yg terjadi kemudian? Kupu-kupu itu memiliki tubuh yg tidak sempurna. Tubuhnya kecil dan sayapnya tidak berkembang. Pria itu tetap memperhatikan dan berharap , tidak lama lagi, sayap tersebut akan terbuka, membesar dan berkembang menjadi kuat untuk dapat mendukung badan kupu-kupu itu sendiri. Tapi semua yg diharapkan pria itu tidak terjadi ! Kenyataanya, kupu kupu tersebut malah menghabiskan seluruh hidupnya merayap dengan tubuhnya yg lemah dan sayap yg terlipat. Kupu-kupu tersebut tidak pernah bisa terbang.

Apa yang pria itu lakukan, dengan segala kebaikan dan niat baiknya, dia tidak pernah mengerti, bahwa perjuangan untuk mengeluarkan badan kupu-kupu dari kepompong dengan cara mengeluarkan seluruh cairan dari badannya adalah suatu proses yang dibutuhkan, sehingga sayapnya dapat berkembang dan siap untuk terbang begitu keluar dari kepompong tersebut, sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh Allah.SWT. Dengan kata lain itulah sunatullah.

Perjuangan adalah sesuatu yg mutlak kita butuhkan dalam hidup ini. Jika saja kita diperbolehkan untuk melewati hidup ini tanpa masalah, hal ini justeru akan membuat kita lemah. Kita tidak akan pernah sekuat seperti apa yang kita harapkan, dan tidak akan pernah terbang seperti kupu-kupu itu.

Hidup selalu dipenuhi dengan masalah. Walau tanpa kita minta masalah akan tetap datang menghampiri kita, mulai dari masalah yang sepele sampai yang dirasa sangat berat. Namun pernahkah kita berfikir bahwa bisa jadi cobaan-cobaan ini datang justru buah dari doa kita sendiri.

Ketika kita berdoa, “Yaa Allah berikanlah hamba kekuatan dan keberanian”. Maka ketika datang kesulitan dan rintangan sesungguhnya Allah sedang mengabulkan doa kita. Allah sedang melatih dan menguji kita agar kita mampu melewatinya. Bukankah kita baru bisa dikatakan kuat jika kita mampu mengangkat beban. Semakin berat beban yang mampu kita angkat maka artinya kita semakin kuat.

Kita meminta kesejahteraan dan Allah memberikan kita otak dan otot untuk bekerja. Kita meminta kebijak sanaan maka kita diberikan masalah yang harus dipecahkan untuk menguji kita apakah kita sudah bijaksana atau belum.

Kita meminta pertolongan, Allah memberikan kesempatan untuk kita ambil. Dan kita sering meminta cinta dan kasih sayang, lalu Allah mengirimkan orang-orang yang sedang kesulitan disekeliling kita untuk kita bantu. Maka ketika kita melihat orang yang kesulitan tetapi kita mengabaikan untuk menolongnya padahal kita mampu. Maka itu sama artinya kita sudah menolak cinta dan kasih sayang Allah.SWT. padahal kita sendiri yang memintanya.

Orang yang yang memiliki sikap mental positif menganggap masalah bukan sebagai halangan atau hambatan. Tetapi justeru sebagai tantangan yang harus dilewati. Karena orang yang paham tahu betul bahwa sebenarnya masalahlah yang akan mendewasakan kita. Kemampuan kita dalam menghadapi masalahlah yang akan menjadi parameter kualitas diri kita. Dan jangan heran ketika ujian terberat justeru datangnya dari orang-orang terdekat kita. Teman yang meremehkan, keluarga yang tidak mendukung atau bahklan dari diri kita sendiri dengan munculnya rasa malas, pesimistis, kejumudan, futur atau sikap-sikap lain yang dapat membuat kita down dan putus asa. Sehingga kita dihadapkan pada pilihan untuk “Maju terus atau berhenti sampai disini saja!”. Di sinilah sesungguhnya kita sedang di uji untuk mampu memotivasi diri kita sendiri sebelum kita mampu untuk memotivasi orang lain.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?(QS. Al-Ankabutt:2)

Prinsip 90:10

Maksudnya adalah 10% hidup kita bergantung pada apa yang terjadi pada diri kita dan itu tidak dapat kita kendalikan. Itulah takdir. Kita tidak bisa menghentikan gempa bumi yang terjadi kita tidak bisa menghindari kecelakaan saat kita sudah berhati-hati tapi justeru orang lain yang menabrak diri kita. Kita tidak bisa mengendalikan jadual pesawat yang terlambat. Dan hal-hal lainnya di luar diri kita yang tidak bisa kita kendalikan. Kita kidak bisa mengontrol yang 10% ini.

Lalu bagaimana dengan yang 90%? Kita sendiri yang menentukan yang 90% lainnya. Yaitu adalah keputusan kita untuk bagaimana kita akan bereaksi atas kejadian yang kita alami. Dengan kata lain juga adalah pilihan sikap kita dalam menghadapi masalah yang kita hadapi. Percaya atau tidak, disadari atau tidak disadari itu mempengaruhi 90% hidup kita.

Kita tidak bisa mengendalikan kemacetan di jalan tetapi kita bisa mengendalikan reaksi kita. Sikap apa yang akan kita lakukan, kita sendiri yang memutuskan. Apa yang terjadi selanjutnya itulah pilihan kita. Sehingga jangan heran ketika dua orang menghadapi masalah yang sama tetapi memperoleh hasil yang berbeda karena keputusan yang diambil memang berbeda.

Jangan biarkan lingkungan mengendalikan diri kita. Kitalah yang harus memegang kendali atas diri kita sendiri.

Tenang & yakin , kunci sukses menghadapi masalah.

Tidak usah terkejut ketika kita berniat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kita akan mendapat cobaan yang lebih berat pula. Semakin besar keinginan kita untuk menjadi lebih baik semakin berat pula ujian yang akan kita hadapi. Setelah berhasil melewati satu ujian bersiap-siaplah untuk menghadapi ujian selanjutnya. Ibaratnya sekolah, saat kelas satu kita siberi ujian level kelas satu pula, kalau kita berhasil kita baru bisa naik ke kelas 2 dan nanti kita akan diberi soal ujian level kelas 2 agar kita bisa naik ke kelas 3. dan sudah pasti soal ujian kelas 3 akan lebih berat dari soal ujian kelas 2.

Begitulah halnya dengan cobaan atau masalah yang akan kita hadapi. Ketika telah melewati sebuah cobaan, bukan berarti akan berhenti sampai di situ. Jika kita masih ingin menjadi lebih baik lagi maka ujian yang lebihg berat dari sebelumnya akan datang pada kita. Saat kita lari dari masalah, itu berarti kemampuan kita akan berhenti sampai disitu. Tetapi bila kita berhasil menghadapinya maka kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan menjadi lebih mudah bagi kita untuk menolong orang-orang yang menghadapi masalah yang lebih ringan dari masalah yang pernah kita hadapi.

Saat menghadapi masalah, usahakanlah untuk tidak panik. Karena kepanikan akan membuat kita tsulit untuk mengontrol tindakan kita. Jalan pikiran kita menjadi lebih tertutup dari solusi. Malah bisa jadi akan memperbesar masalah. Usakanlah untuk tetap bersikap tenang karena ketenangan akan membantu kita untuk tetap berpikir jernih dalam memikirkan solusi. Lebih mudah menyerap dan mengelola informasi. Tindakan kitapun lebih terkontrol. Kita jadi lebih mudah untuk bersabar.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS. Al-Fajr:27-30)

Kesabaran dalam menghadapi masalah lambat laun akan membuahkan hasil yang baik. Namum sikap sabar tidak sama dengan pasrah tanpa usaha. Sabar dan tawakal itu dimunculkan setelah kita meluruskan niat dan menyempunakan ikhtiar. Kalau sudah begitu baru menyerahkan hasilnya kepada Allah.SWT.

Untuk memunculkan sikap sabar dan tenang ini memang harus dilatih, karena memang cukup sulit bagi yang belum terbiasa. Sebahagian orang melatihnya dengan bermeditasi. Namun dalam Islam sebenarnya sudah diajarkan yaitu dengan sholat. Sholatlah dengan tuma’ninah, dalam gerakan maupun bacaannya. Itu akan melatih kesabaran dan ketenangan.

Dan yakinlah akan pertolongan Allah yang mungkin datangnya tidak terduga dan sulit diterima logika. Yakinlah sesulit apapun masalah pasti ada solusinya dan pasti ada hikmah dibaliknya.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah:153)

Setiap Racun pasti ada penawarnya. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Begitu juga dengan masalah, pasti ada solusinya. Tugas kita adalah untuk mencari dan memecah kan solusi tersebut karena itulah inti dari pengembangan diri.

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya… (QS. Almu’minun:62)

Jadi… jangan pernah takut menghadapi masalah, tetapi juga jangan suka cari-cari masalah!

Hadapi semua tantangan dengan sikap OPTIMIS dan selalu TERSENYUM ^_^

(Terinspirasi dari Al-quran, artikel steven covey dan the butterfly lesson)