Cara memelihara sikap mental positif; #2 (lanjutan)


Akhirnya… setelah agak lama tidak memposting tulisan, saya penuhi janji saya untuk menuliskan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang cara memelihara sikap mental positif. Oke, sekarang kita lanjutkan…

3. Berpikir kebalikan, Temukan hikmah dari setiap kejadian.

Sikap mental yang positif akan mendorong kita untuk selalu lebih baik dan menjadi lebih kreatif. Diluar sana, hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan  jauh lebih banyak dari pada yang bisa kita kendalikan. Setiap saat hampir selalu terjadi hal-hal yang tak kita inginkan. Sering kita tidak mengerti apa yang terjadi dengan diri kita. Terkadang mungkin akan membawa kita pada pertanyaan “mengapa begini?” atau ”mengapa terjadi seperti itu?”. Hal itu sah sah saja sepanjang pertanyaan tersebut bukanlah untuk meratapi kejadian buruk yang terjadi tetapi untuk menemukan hikmah dibalik kejadian tersebut.

Orang dengan sikap mental positif, selalu dapat menanggapi apapun yang terjadi dengan mencari suatu hikmah dibalik setiap kejadian secara kreatif. Karena semua pasti ada hikmahnya. Orang dengan sikap mental positif selalu berpikir secara antisipatif dan melihat segala sesuatu lebih dekat dengan kacamata yang positif. Orang yang selalu berpikir dengan hikmah tidak pernah mengabaikan kesempatan yang ada.

Pada prakteknya orang dengan sikap mental positif akan menanggapi kejadian buruk dengan berfikir kebalikan dari pada umumnya pandangan orang. Tidak perduli apa yang terjadi. Ia selalu peduli pada ada apa sebenarnya dibalik itu, apa sisi positifnya dan harus ia temukan, harus. Karena bisa jadi  kita tidak menyukai sebuah kejadian padahal efeknya baik buat kita. Dan bisa jadi pula kita menyukai sebuah kejadian padahal bernilai negative pada diri kita. Misalnya kejadian krisis moneter pada tahun 1997-1998. banyak yang berpendapat bahwa perekonomian Indonesia akan hancur lebur. Rakyat kecil akan semakin susah, pengangguran meningkat kemiskinan akan berlipat ganda. Apakah benar demikian? Ya pada awalnya sampai akhirnya kejadian ini mendorong banyak orang untuk berbuat lebih baik lagi. Bekerja lebih giat dan lebih kreatif. Dan ternyata disisi lain krisis moneter justru mengangkat harkat para petani dan pemilik kebun kecil. Pendapatan mereka meningkat beberapa kali lipat.

Saya ingat fenomena para transmigran di daerah saya, yang tadinya mereka tidak punya televisi dan motor justru pada saat krismon mereka jadi bisa beli tv, motor dan apapun yang mereka inginkan. Para pedagangpun hampir tidak terkena imbasnya karena harga pasar segera menyesuaikan dengan kondisi. Yang mungkin terlihar makin repot adalah para pegawai negeri yang kenaikan gajinya tidak sesuai karena bergantung pada kebijakan pemerintah. Juga para pengusaha yang kurang kreatif dan belum memiliki sikap mental yang positif hingga akhirnya gulung karpet.

Contoh lain adalah ketika gempa bumi terjadi di Jogja. banyak pengamat pendidikan yang berfikir jumlah mahasiswa baru akan menyusut drastis. Image jogja sebagai kota pendidikan akan kalah dengan ketakutan orang akan bencana alam. Banyak perguruan tinggi yang khawatir akan kelangsungannya terutama perguruan tinggi swasta. Namun saya kagum ketika mengetahui bahwa ada sebuah perguruan tinggi yang menanggapi kejadian ini dengan positif. Untuk memotivasi, pimpinan perguruan tinggi tersebut menyampaikan pada karyawannya, ”Kalau dulu saingan kita hanyalah perguruan-perguruan tinggi yang sejenis, sekarang kita punya tambahan saingan yaitu alam. Maka untuk mencapai hasil minimal sama dengan tahun sebelumnya maka  kita harus bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya” wal hasil perguruan tinggi ini mendapat mahasiswa lebih banyak dari tahun ke tahun. Diawali dari sebuah sikap mental positif.

Berbeda dengan orang yang tidak memiliki sikap mental positif. Walaupun sudah diperlihatkan hikmah didepan mata tetap saja mengeluh. Menilai kejadian bukan dari manfaat, tetapi hanya dari segi kepuasan, suka atau tidak suka. Sehingga wajar saja kalau hidup selalu menderita walau bergelimang harta.

Orang dengan sikap mental positif selalu bisa menemukan peluang dibalik ancaman. Selalu menemukan hikmah dari setiap kejadian karena semua itu pasti ada hikmahnya. Pasti!

4. Berbagi hal-hal positif dengan orang lain

Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Selain hukum tarik menarik ada juga yang disebut dengan hukum timbal-balik, mungkin semacam hukum karma bagi yang mempercayainya. Perbuatan itu seperti bola karet yang dilempar. Ketika menyentuh dinding atau lantai ia akan memantul balik kediri kita. Kuat atau tidaknya daya pantulnya bergantung pada keiklasan hati kita. Untuk itu perbanyaklah berbagi hal-hal positif sekecil apapun yang anda miliki. Iklhaskan hati anda maka kebaikan akan anda peroleh tanpa anda minta.

Dengan berbagi pengetahuan anda akan bertambah. Berbagi pengalaman, berbagi ilmu akan semakin memperkaya diri anda. Anda tidak akan pernah rugi. Belum pernah saya mendengar orang jatuh miskin karena berbagi, apalagi bila ia ikhlas.

Dengan berbagihal-hal yang positif yang kita miliki maka kita akan semakin positif karena akan kembali lagi pada diri kita.

5. Sederhanakan Masalah

Masalah adalah hal yang pasti kita hadapi. Hidup tanpa masalah adalah suatu hal yang mustahil. Karena masalahlah yang membuat hidup ini jadi lebih hidup. Masalahlah yang akan mendewasakan kita dan dari waktu kewaktu masalah yang kita hadapi akan semakin sulit sesuai dengan tingkat kemampuan kita. Ibaratnya seperti saat kita bersekolah. Setelah belajar satu semester di penghujungnya akan ada ujian semester dan ada ujuan kenaikan kelas. Ujian untuk siswa kelas satu tidak akan mungkin sesulit ujiannya siswa kelas 3 dan soal ujian untuk anak kelas 6 pasti tingkat kesulitannya akan lebih dari soal ujian untuk siswa kelas 4. Begitulah perumpamaan masalah dalam kehidupan kita.

Masalah yang lebih sulit menandakan bahwa sesungguhnya kita sedang diuji oleh Sang Maha Pencipta untuk naik ke level yang lebih tinggi dalam kehidupan ini. Soal ujian itu untuk dikerjakan, maka masalah itu juga untuk dihadapi dan diselesaikan. Bukan untuk dikeluh kesahkan apalagi akhirnya lari dari masalah.

Lalu mengapa banyak orang mengeluh dan putus asa ketika mendapatkan masalah. Ternyata permasalahannya bukanlah dari apa masalah yang dihadapi, namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah. Dalam permasalahan yang sama sikap orang bisa berbeda dan hasilnyapun akan berbeda pula. Sama-sama mengalami kemacetan di jalan raya tetapi tindakan orang berbeda-beda, ada yang menekan klakson terus menerus, ada yang sambil teriak-teriak dengan orang didepannya, ada yang tenang saja sambil mendengarkan musik atau berita di radio tape mobilnya. Ada juga yang memanfaatkan waktu dalam kemacetan untuk membaca menambah ilmu. Masalahnya sama tapi sikapnya berbeda-beda.

Sewaktu jaman di sekolah dasar dulu, saya ingat guru saya mengajarkan pelajaran matematika (terimaksih untuk semua guru saya). Dalam menyesaikan soal pembagian dan bilangan pecahan ada yang namanya menyederhanakan bilangan. Dengan menyederhanakan bilangan kita menjadi lebih mudah dalam menyelesaikan soal. Inilah sebenarnya rumus untuk menghadapi masalah apapun juga. Disederhanakan!!!.

Misalnya ketika Anda berjalan lalu mengijak paku hingga kaki Anda berdarah. Anda punya pilihan beberapa. Mengusut dari mana asal paku tersebut sehingga Anda bisa meminta ganti rugi biaya pengobatan karena Anda khawatir paku itu akan menyebabkan kaki Anda kena infeksi dan pengobatannya akan jadi mahal. Ya kalau Anda berhenti sampai disitu saja. Karena ada jenis orang yang berfikirnya terlalu jauh kedepan tapi mengada-ada ” Jangan jangan kaki saya nantinya harus diamputasi?”. pilihan lainnya adalah membiarkan paku itu tetap dijalan agar ada orang lain yang terkena sehingga merasakan juga apa yang Anda rasakan. Atau Anda singkirkan kemudian paku itu agar tidak mengenai orang lain, lalu Anda pulang atau ke puskesmas untuk mengobati luka sambil dicamkan dalam hati ”Berarti saya harus lebih berhati-hati selanjutnya”. Sudah, masalah selesai. Berfikir sederhana saja.

Hidup itu sudah sulit, jangan ditambah rumit dengan mempersulit diri sendiri. Sederhanakanlah masalah dan hadapi rintangan dengan senyum penuh keikhlasan.

Orang yang memiliki sikap mental positif lebih pandai dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Karena ia selalu menyederhanakan masalah. Tetapi ingat, menyederhanakan masalah tidak sama dengan menyepelekan masalah. Karena sikap menyepelekan dapat membuat kita bertindak gegabah.

6. Tetapkan tujuan dengan jelas

Memiliki tujuan yang jelas ibarat memiliki sasaran ketika ingin menembak. Kalau sasaran sudah jelas maka kita jadi tahu kemana senapan harus diarahkan dan bila ditembakkan akan tepat sasaran. Minimal kalaupun meleset tidak akan jauh dari sasaran, kita tinggal melatih saja hingga mahir.

Coba bayangkan bila kita tidak punya target yang jelas. Kita tahu harus mencari sasaran tapi kita bingung apa bentuknya. Hasilnya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama kita asal tembak kalau melihat sesuatu yang bisa ditembak. Kalau kita dekati ternyata salah tembak bukan itu yang kita inginkan, kita lalu mencari sasaran lain. Kemungkinan kedua kita hanya menghabiskan waktu untuk mencari-cari sasaran yang belum jelas. Dua-duanya kemungkinan yang merugikan, rugi sumberdaya serta tenaga dan yang paling buruk adalah rugi waktu.

Tujuan yang jelas membuat kita semangat untuk meraihnya sehingga sikap kita pun akan mejadi lebih positif dengan disadari atau tidak.

Tujuan dalam jangka panjang disebut juga cita-cita. Cita-cita juga harus jelas. Bercita-cita ’Menjadi orang sukses’ bagi saya termasuk cita-cita yang belum jelas, belum lengkap. Karena kalau ditanya apa parameternya menjadi orang sukses. Bagaimana bentuknya orang yang sukses maka anda akan bingung menjawabnya. Akan muncul banyak bentuk yang akhirnya anda bingung ingin seperti apa. Untuk itu tujuan yang jelas adalah dengan mengambil satu bentuk yang jelas. Ingin menjadi pengusaha toko komputer yang sukses atau ingin menjadi ilmuan ahli robotika. Itu baru lebih baik!

Ditulis dalam Motivasi. 1 Comment »

Palestina dan Peringatan Isra’ Mi’raj


Tanggal 27 Rajab yang tahun ini bertepatan dengan 10 Juli kemarin diperingati sebagai hari dimana Rasulullah Muhammad SAW melakukan Isra’ da Mi’raj. Yaitu sebuah perjalanan dimalam hari dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan kemudian dilanjutkan ke langit menuju Sidratul Muntaha. Didalam peristiwa ini juga perintah Sholat diturunkan, kita semua mungkin sudah hapal detail kisahnya. Setiap tahun pada tanggal yang sama peristiwa ini selalu diperingati oleh sebagian umat muslim diseluruh dunia. Sebahagian lagi menganggap peringatan ini adalah bid’ah dan tidak perlu untuk dilakukan. Namun demikian, di Indonesia hampir disetiap mesjid selalu diadakan acara khusus untuk memperingati Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW ini.

Sejarah Peringatan Isra’ Mi’raj

Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya. Sejak kapan peringatan peristiwa ini dilakukan? seperti halnya juga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang juga selalu diperingati.

Ada perbedaan pendapat yang muncul tentang kapan peringatan Isra’ Mi’raj mulai dilaksanakan. Namun yang jelas sepertinya para ulama telah bersepakat bahwa peringatan Isra’ Mi’raj (dan juga Maulid Nabi) tidak pernah dirayakan semasa Rasulullah SAW masih hidup dan masa para Sabat dan dua generasi berikutnya. Lalu kapan perayaan ini mulai diadakan?

Ada 2 pendapat yang berbeda tentang kapan umat Islam mulai memperingatinya.

Sebagian Ulama berpendapat bahwa pelopor peringatan Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi SAW adalah Raja Mu’iz li Dinillah, seorang raja Dinasti Fathimiyyah yang berkuasa sejak tahun 362 H di Mesir.

Sebahagian lagi berpendapat bahwa perayaan ini dipelopori oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai dan dekat dihati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub. Banyak yang berpendapat bahwa sang Sultan memulai peringatan ini (Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj) untuk membangkitkan semangat jihad umat muslim guna merebut kembali Yerusalem dari kerajaan Salib yang telah merampas dengan kejam tanah yang sebelumnya telah dibebaskan oleh Umar Bin Khattab ini. Dimana disana terdapat tempat suci kedua bagi umat Islam.

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa saat Pasukan Salib merebut Yerusalem sebelum akhirnya dibebaskan kembali oleh Sultan Salahuddin, mereka membunuh seluruh Muslim yang ada tidak terkecuali wanita dan anak-anak sehingga saat itu digambarkan jalan-jalan di Yerusalem banjir darah hampir semata kaki. Konon tanggal pembesan Yerusallem ini adalah 2 Oktober 1187 atau bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 583 H. Saat pembebasan ini Sultan Salahuddin tidak membalas perbuatan Tentara salib sebelumnya dengan perbuatan yang sama. Tetapi ia justru membebaskan seluruh umat Yahudi dan Nasrani.

Mengapa Masjidil Aqsa?

Sedikit kita renungkan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj mengapa Rasulullah Muhammad SAW diperjalankan ke masjidil Aqsa terlebih dahulu? kenapa tidak dari masjidil Haram langsung ke Sidratul Muntaha? Alasannya adalah:

  1. Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berda’wah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berda’wah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan “golongan” Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.
  2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsa adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai “pembangkit” ruhul jihad kaum muslimin. Kadangkala, kalau tiada lawan itu semangat jihad kaum muslimin “melemah” karena terlena, dan dengan adanya sengketa tersebut, semangat jihad kaum muslimin terus terjaga dan terbina.
  3. Berikutnya, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi SAW. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 12, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida”, yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu da’wah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan Nabi-nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa Nabi yang sebelumnya pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da’i, bahwa dalam kesulitan da’wah itu bukan berarti Allah tidak mendengar. (mengutip dari http://www.pks-jaksel.or.id/Article597.html)

Makna Peringatan Isra’ Mi’raj dan kondisi Palestina saat ini

Setiap tahun Isra’ Mi’raj selalu diperingati. Seluruh umat islam tahu dan hapal betul dengan kisah perjalanan ini. Namun pertanyaannya sekarang apakah seluruh umat islam tahu dan sadar dengan kondisi Masjidil Aqsa saat ini? Para Ustad dan penceramah selalu menguraikan dengan fasih kisah perjalanan Rasulullah SAW. Mengulang ayat-ayat dari surat Al-Isra’ setiap tahunnya. Namun sayang, sangat jarang sekali kita mendengar dalam kajian-kajian tersebut diceritakan juga kondisi Masjidil Aqsa saat ini yang sangat menyedihkan.  Padahal masjidil Aqsa adalah bagian dari Isra’ Mi’raj itu sendiri.

Apakah seluruh umat Islam yang selalu memperingati Isra’ Mi’raj setiap tahun ini tahu dan sadar bahwa tempat suci kedua bagi umat Islam yang juga menjadi tempat singgah Rasulullah SAW sebelum naik kelangit tersebut saat ini terancam hancur, roboh sedikit demi sedikit oleh penggalian yang sengaja dilakukan oleh israel dengan alasan ingin menemukan istana Sulaiman? Apakah seluruh umat isalam yang selalu memperingati Isra’ Mi’raj tahu bahwa tempat suci kedua tersebut selalu dilecehkan karena dijadikan museum dan tempat wisata oleh israel dimana setiap turis yang datang bebas keluar masuk mesjid tanpa besuci sementara umat muslim disana dilarang untuk sholat didalamnya?

Bangsa Muslim Palestina tempat dimana Masjidil Aqsa itu berdiri yang nota benenya adalah saudara-saudara kita seaqidah kini sedang mendapatkan kezaliman yang luar bisa kejinya,  apakah seluruh umat Islam tahu dan selalu diingatkan akan semua itu?

Peringatan Isra’ Mi’raj bukanlah sesuatu yang wajib, namun ini akan sangat baik manfaatnya bila ini dapat menumbuhkan keimanan dikalangan umat Islam, dan lebih dari itu juga dapat menumbuhkan semangat jihad kaum muslimin. Karena salah satu simbol dari Isra’ Mi’raj itu sendiri adalah Masjidil Aqsa yang berada di negeri Palestina saat ini sedang dinodai oleh zionis israel dan harus kita bela. Seharusnya dalam setiap peringatan Isra’ Mi’raj juga harus disampaikan kondisi Masjidil Aqsa dan Bangsa Palestina terkini. Agar umat ini selalu diingatkan tentang pentingnya persatuan antar sesama umat Islam dan dibakar semangat jihadnya untuk mengikuti jejak para pendahulunya yang telah memuliakan bumi Palestina dan Masjidil Aqsa. Agar lahir Salahuddin-Salahuddin lainnya yang akan membebaskan kembali tempat suci kedua yang pernah menjadi kiblat pertama bagi umat Islam tersebut.

Wallahua’lam bissawab.