Born to be Champion


Seandainya kita tahu, benar-benar sadar dan selalu ingat akan perjalanan hidup kita. Maka kita tidak akan begitu mudahnya patah semangat dan putus asa. Kita tidak akan takut untuk bersaing. Kita tidak akan mudah menyerah dalam berjuang.

Anda pasti tahu asal atau cikal bakal manusia sebelum dilahirkan bukan? Ya, yaitu proses bertemunya sel sperma dan ovum yang lalu berkolaborasi membentuk satu sel tunggal yang kemudian memperbanyak diri menjadi dua sel, empat dan seterusnya hingga menjadi sesosok janin di dalam rahim Ibu.

Sekarang prosesnya kita tarik mundur sedikit. Antara ovum dan sperma manakah yang paling dominan dalam pembentukan dasar seseorang?. Ternyata basicnya ada pada sel sperma dan ovum adalah penunjang dari sel sperma. Penelitian ilmiah telah mambuktikan bahwa jenis kelamin seseorang ditentukan oleh sel sperma bukan oleh ovum. Bisa dikatakan bahwa seluruh sel sperma adalah sel hidup yang berpotensi untuk menjadi cikal bakal janin. Laki-laki atau perempuan.

Pada saat terpancar ada sekitar 200juta sel yang keluar untuk satu tujuan, untuk menemukan pasangannya yaitu sel telur. Dan sudah pasti tidak semua akan mendapatkan pasangannya karena sel telur hanya ada satu atau kadang-kadang dua untuk calon bayi kembar tidak identik namun ini sangatlah jarang. Seluruh sel sperma tersebut mendapati kondisi medan yang sama, harus menempuh jalan yang panjang sebelum akhirnya bertemu dengan ovum. Mereka harus berlomba-lomba menjadi yang pertama sampai dalam rahim.

Namun sebelum itu dalam perjalanannya saja mereka sudah harus bersaing untuk memanfaat cairan yang mengandung glukosa yang terdapat pada dinding leher rahim untuk mengubahnya jadi energi, siapa yang terlambat dan tidak kebagian maka akan berguguran pada fase ini. Setelah berhasil melalui jalan panjang pun belum menjadi jaminan bagi sel sperma untuk hidup dan berhasil mendapatkan ovum. Ribuan sel sperma yan tersisa masih harus bersaing, mengerubungi satu ovum untuk berlomba menjadi yang pertama kali menembus dinding sel yang cukup tebal dan berkolaborasi dengan inti sel ovum. Hanya sel sperma yang paling gigih dan paling kuatlah yang kemudian berhasil. Dan ketika sudah ada satu sel sperma yang masuk maka akses untuk sel yang lain akan tertutup, dinding ovum akan menebal dan kesempatan untuk yang lain akan hilang dan sel sperma-sel sperma yang gagal akan mati dalam hitungan waktu.

“Setelah 9 bulan 10 hari Sang Juarapun lahir dengan tangan mengepal pertanda ia siap untuk melanjutkan perjuangannya”

Lalu siapakah pemenang itu? Itulah saya, itulah anda, itulah kita semua yang telah lahir ke dunia ini.

Coba anda bayangkan jika saat itu bukan anda dan bukan saya yang memenangkan persaingan dengan ratusan juta pesaing lainnya, maka anda tidak akan ada di dunia ini, mungkin akan ada orang lain yang akan lahir tapi bukan anda. Dan sekali lagi INGAT! Anda bukan hanya bersaing dengan beberapa puluh pesaing tetapi ratusan juta pesaing sudah anda kalahkan. Hampir sama jumlahnya dengan penduduk Indonesia tahun 2000, lebih dua kali lipat dari jumlah penduduk Jepang saat ini . Bahkan ketika anda seorang wanita, anda telah mengalahkan jutaan pria.

dan memenangkan persaingan. Maka seharusnya, tidak ada alasan untuk anda unuk mundur dari persaingan lomba karya ilmiah yang hanya di ikuti seratus peserta, tidak anda alasan unuk anda untuk berhenti bersaing menjadi rangking 1 di kelas yang hanya berisi 40 orang murid, tidak ada alasan bagi anda untuk berhenti dari persaingan apapun, hanya karena anda takut tidak berpeluang menang karena pesertanya banyak. Padahal jauh lebih sedikit dari pesaing anda dulu.

Sadarilah! Anda terlahir sebagai manusia unggul dengan keunggulan anda sendiri.

“Allah SWT telah menjadikan kita lahir sebagai yang terbaik. Jadi, berusaha yang terbaik adalah bentuk tanggung jawab kita kepada Allah”

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Qur’an, 95:4)

Setiap bayi memiliki sikap mental seorang juara

Secara luar biasa, setiap orang mengalami pembelajaran yang luar biasa cepat pada 5 tahun pertama hidupnya. Dari tidak bisa apa-apa ia harus belajar berjalan lalu berlari. 90% kosa kata dasar dihapal pada umur hingga lima tahun. Sedangkan sisanya hingga usia dewasa orang hanya menambah 10%nya saja. Menghapal dan mengingat bentuk benda dan warna dengan cepat. Mempersiapkan semua keahlian dasar yang dibutuhkan untuk pembelajaran yang lebih tinggi pada saat ia menjelang dewasa.

Pertanyaannya adalah mengapa seorang bayi bisa belajar begitu cepat? Dari yang tadinya berdiripun tidak mampu seperti orang yang lumpuh tetapi akhirnya bisa berlari dengan riang. Yang tadinya hanya bisa menangis menjadi bisa bernyanyi dan berteriak dengan lantang.

Itu semua karena setiap bayi pada dasarnya memiliki sikap mental seorang juara sebagai fitrahnya. Apa saja sikap mental seorang juara itu?

Mental juara yang pertama adalah selalu bersemangat. Sewaktu masih balita kita tidak pernah melakukan sesuatu dengan bersedih atau merasa tertekan. Kita selalu semangat untuk berusaha dan tidak pernah malas malasan dalam mencoba. Ketika kita capek kita istrahat dan teridur tetapi kemudian berusaha lagi hingga kita bisa berjalan.

Mental juara yang kedua adalah selalu antusias. Seorang balita memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap yang ada disekelilingnya. Ia tidak takut apapun untuk mencoba dan berusaha tuntuk tahu dan untuk bisa. Tidak takut air tidak takut api, tidak takut pisau tidak takut hantu. Kalau toh nantinya jadi penakut, itu karena ditakut-takuti orng lain. Orang tuanyalah dan orang-orang di lingkungannyalah yang membuat ia takut. Ia selalu antusias untuk tahu dan untuk mencoba.

Mental juara yang ketiga adalah pantang menyerah. Kegagalan itu hal yang biasa, malah wajib hukumnya. Untuk mendapatkan sukses sejati haruslah merasakan kegagalan. Balita yang baru belajar berjalan saja tahu betul tentang artinya pantang menyerah. Tak perduli berapa kali ia terjatuh dan menangis. Ia pasti bangkit lagi dan mencoba lagi hingga berhasil. Coba anda bayang kan bila dulu saat anda masih belajar berjalan ketika anda sudah terjatuh beberapa kali lalu anda berfikir ” ah sudahlah, mungkin saya memang tidak berbakat untuk bisa jalan. Habis dari kemaren jatuh melulu, kan sakit” lalu anda memutuskan untuk berhenti berjalan. Sudah pasti saat ini anda tidak akan bisa jalan. Otot-otot anda akan mengecil hingga akhirnya tidak bisa menopang tubuh anda karena tidak pernah dipakai untuk berjalan dan akhirnya anda lumpuh. Anda bisa berjalan hingga saat ini, itu karena dulu anda memutuskan untuk belajar berjalan dan tidak akan menyerah sampai anda berhasil, sampai anda bisa berjalan dan berlari seperti orang-orang di sekeliling anda. Jangan anda berpikir, ”Ah… kan memang sudah begitu seharusnya, sudah sewajarnya anak kecil bisa ngomong dan bisa jalan. Itukan mudah dan itu biasa”. Asal tahu saja kesulitan mempelajari dan menguasai bahasa verbal bagi balita sama sulitnya seperti mempelajari bahasa rusia bagi anda yang belum pernah sama sekali mendengar bahasa rusia atau bagi anda untuk mempelajari bahasa tagalog. Bahkan lebih sulit karena balita belum memiliki skill pendukung seperti orang dewasa.

Mental juara yang keempat yang dimiliki seorang balita adalah Confident. Ya rasa percaya diri. Apapun yang di lakukan, pede aja lagi… Contohnya adalah ketika seorang balita belajar berbicara. Ketika ingin menyampaikan sesuatu ia tidak bisa melafazkannya dengan benar paling Cuma bisa ngomong ”babugigabibagu” walaupun salah dan tidak bisa dimengerti orang lain, walaupun kadang ditertawakan dan di ejek kakak dia tetap berbicara dengan keras. Mungkin pikirnya, ”peduli amat omongan orang…”.

Mental juara yang kelima adalah Yakin, pasti bisa! Satu hal yang pasti, yang membuat kita akhirnya bisa berjalan bahkan berlari dan bisa berbicara bernyanyi dan melakukan aktivitas lain karena kita tidak pernah merasa bahwa kita akan gagal. Kita yakin kita akan bisa maka kita bisa. Kita yakin akan bisa seperti orang orang yang kita lihat maka kita lakukan dengan sebuah keyakinan, Pasti bisa!

Kini… setelah bertahun tahun berselang, bayi mungil itu sudah dewasa. Keinginannya bukan lagi untuk sekedar ingin bisa berjalan dan bisa berbicara. Ia memiliki cita-cita untuk diraih dan impian untuk diwujudkan. Tapi masihkah semangatnya seperti dahulu? Masihkah ia memiliki sikap mental seorang juara…

Satu Tanggapan to “Born to be Champion”

  1. Regis Says:

    Tulisan yang sangat inspiratif.
    Terimakasih untuk segala nasihat yang tersirat dan tersurat😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: